Tuhan dengan Kesempatan Kedua

*Renungan ini pertama saya siapkan untuk khotbah Sabat ke-2 tahun 2016 di GMAHK Jemaat Eben-haezer Depok. Dibandingkan dengan yang awal untuk kebutuhan blog ini, naskah saya sesuaikan dari bentuk sermon menjadi article. Juga diperbaharui untuk dipublikasi di situs ini jelang tahun 2018. Tuhan memberkati..

Tahun 2017 dan Tahun Baru 2018

Beberapa hari lagi, kita akan mengakhiri tahun 2017, dan memasuki 2018. Biasanya setiap awal tahun kita menetapkan hal-hal yang akan kita lakukan, yang seringkali adalah usaha kita memperbaiki perbuatan yang kurang selama tahun yang lalu.

Pekabaran ini yang kiranya dapat menjadi bahan renungan dalam mengakhiri tahun 2017 dan menjalani tahun 2018 dalam beberapa hari lagi.

 

Restorasi

the last supper
The Last Supper by Leonardo da Vinci (from Wikipedia)

The Last Supper oleh Leonardo da Vinci adalah salah satu lukisan yang paling terkenal. Lukisan ini terdapat di dinding ruang makan dari biara Santa Maria delle Grazie di kota Milan, Italia. Sekitar tahun 1494, Leonardo da Vinci diutus oleh penguasa Milan untuk mengerjakan perbaikan gereja dan biara ini. Salah satu bagian dari pekerjaan ini, dia melukis The Last Supper. Makan malam terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya seperti digambarkan dalam Yohanes 13:21. Di sini Leonardo da Vinci menunjukkan ketegangan antara murid-murid saat Yesus mengumumkan bahwa salah satu dari mereka akan mengkhianati Dia. Lukisan ini adalah salah satu lukisan yang paling terkenal, paling banyak dipelajari, ditelaah, dan sering dipergunakan untuk gambar lucu, kritik, dan lain-lain. Dibutuhkan sekitar 5 tahun bagi Leonardo da Vinci untuk menyelesaikan lukisan ini.

Kalau kita melihat mobil, bagaimana kita bisa menentukan mobil itu baru atau sudah tua? Salah satu yang paling terlihat adalah catnya. Mobil baru terlihat sangat mengkilap, sedangkan mobil lama catnya terlihat usang. Seiring waktu cat semakin memudar.

Kita bisa bayangkan apa yang terjadi dengan lukisan yang sekarang berumur sekitar 522 tahun. Lukisan ini pasti pudar, retak-retak, dan ada cat yang terkelupas. Karena itu, para seniman melakukan upaya memperbaiki lukisan yang merupakan salah satu mahakarya seni. Perbaikan ini disebut dengan Restorasi (Restoration).

Dalam proses restorasi, para seniman seperti melukis ulang gambar yang dilukis Leonardo da Vinci beberapa ratus tahun lalu. Restoration terbesar dilakukan pada tahun 1979-1999. Leonardo da Vinci menyelesaikan lukisan ini dalam 5 tahun, tapi salah satu proses restorasi memakan waktu 20 tahun. Tidak termasuk proses restoration lainnya, yang beberapa sudah dilakukan. Dalam 20 tahun, perlahan-lahan para seniman dan ilmuwan bekerja sama untuk menganalisa lukisan ini. Mereka mengambil sampel cat lalu melihat mana yang cat, jamur/lumut, lem, cat ulang (yang dilakukan seniman/restoration sebelumnya), dan asap. Dengan hati-hati mereka mengeluarkan hal-hal yang tidak diinginkan sampai hanya cat asli da Vinci, lalu menambahkan jika perlu. Proses cat ulang harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Dan caranya dibuat sedemikan rupa sehingga menyerupai cara Leonardo da Vinci melukis. Kadang-kadang dalam sehari seniman ini hanya menyelesaikan 1 bagian sebesar perangko. Tidak heran, Pinin Brambilla Barcilon, seniman yang ditunjuk untuk melakukan proses restorasi ini, butuh sekitar 20 tahun. Lukisan di dinding tersebut berukuran 15 kaki x 29 kaki, atau sekitar 4,5 m x 8,8 m. Di akhir dari restorasi ini, tahun 1999, The Last Supper seakan baru lagi. Seakan belum lama dilukis oleh Leonardo da Vinci.

Tuhan menciptakan manusia, mahakarya-Nya, dengan sempurna.  “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu,” ini dikatakan setelah hari ke-6 yaitu setelah manusia diciptakan, “sungguh amat baik.” Kej. 1:31

Dengan segala keterbatasan manusia sekarang, bisa saya katakan waktu saudara dan saya dilahirkan, kita dalam keadaan sungguh amat baik. Hingga suatu saat sesuatu membuat kita, baik manusia pertama Adam dan Hawa, juga kita manusia zaman ini, menjadi tidak baik. Yaitu dosa. Manusia memilih untuk tidak mengikuti perintah Tuhan dan melakukan dosa.

Pada saat kita berdosa, kita terpisah dari Tuhan. Seperti ranting yang patah dari pohon, kita tidak akan bisa bertahan jauh dari Tuhan. Pada saat kita masih berdosa, dan jauh dari Tuhan, Tuhan Maha Pengasih sudah menyediakan rencana keselamatan. Untuk memperbaiki kita manusia yang kotor oleh dosa. Menyediakan restorasi, seperti lukisan tadi, restorasi yang akan mengembalikan kita ke keadaan yang sungguh amat baik. Dan kita mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup sesuai perintah-Nya. Itulah judul renungan ini.

 

Tuhan dengan Kesempatan Kedua

Puji Tuhan, kesempatan kedua adalah keahlian dari Juruselamat kita.

Berapa banyak saja tokoh Alkitab yang jatuh dan diberikan kesempatan kedua. Ada Petrus yang menyangkal Yesus, ada Yunus yang melarikan diri sampai ditelan ikan besar, ada Markus yang melarikan diri saat Yesus ditangkap, ada Samson yang jatuh karna wanita, dan sang raja Daud.

Mereka semua, bahkan banyak lagi tokoh Alkitab, jatuh. Tapi Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada masing-masing mereka. Gantinya menjadi memalukan. Mereka menjadi lambang atau piala yang menunjukkan kasih karunia Tuhan.

Inilah kenyataan yang harus kita akui. Kenyataannya, kita semua gagal. Kita melakukan hal-hal yang kita sesali. Kita mengatakan hal-hal yang kita tidak suka. Dan kita melukai orang-orang yang kita cintai.

Bahkan rasul Paulus pun mengakui ini. “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Rom. 7:15

Suatu hari para pemuka agama datang kepada Yesus membawa seorang perempuan. Mereka mendorong dia ke depan Yesus. Dia ditangkap tidur dengan laki-laki yang bukan suaminya. Mereka menguji, apa yang akan dilakukan Yesus. Menurut hukum, wanita itu harus dilempar batu, dan mereka semua sudah siap dengan batu di genggaman tangan mereka. Yesus pun mengambil batu dan berkata siapa yang tidak berdosa silahkan mulai melempar. Gantinya mulai melempari wanita itu, Yesus mulai menulis di tanah. Dan satu per satu batu jatuh ke tanah, bukan ke wanita itu. Tidak ada satu pun di antara pemuka agama tadi yang bersih dari dosa. Yang tersisa hanya Yesus.

Saat itu, Yesus berjanji: “Akupun tidak menghukum engkau.” Lalu memberikan perintah: “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Seperti perempuan itu, kita semua diadili dan patut dihukum karna hal-hal yang sudah kita lakukan. Dosa-dosa kita. Tapi gantinya, Yesus menunjukkan dan memberikan kepada kita kasih karunia. Kita yang seharusnya mati karna dosa, diberikan hidup kekal bersama-Nya.

Puji Tuhan, kita tidak diberikan yang sepatutnya kita terima, yaitu hukuman. Gantinya, puji Tuhan, kita mendapatkan kesempatan kedua. Kita semua mendapatkan kasih karunia. Kita semua mendapat kesempatan untuk mendapatkan keampunan.

 

Seorang anak gadis

Suatu hari, ada seorang anak gadis yang bernama Cathleen. Pada waktu di kelas 8, dia memperhatikan ada benjolan-benjolan di belakang lehernya. Pertama-tama dia tidak menghiraukannya, tapi lama kelamaan dia mulai takut karna tidak hilang-hilang.

Akhirnya dia menunjukkannya ke mamanya. Mamanya seorang dokter dan langsung mengenali gejala ini. Dia langsung menelepon ke rumah sakit. Melihat kegelisahan ibunya, Cathleen dengan cepat mengerti. Kanker.

Tidur di rumah sakit dengan infus dan AC yang dingin, membuat Cathleen mengigil. Ditambah memikirkan penyakitnya, perutnya seperti terputar-putar.

Suster datang mengambil darah. Cathleen melihat ke tangannya, dan mulai melihat ke belakang, kepada kehidupan yang sudah dia lalui. Apakah dia sudah puas? Dia menyesali semua kesalahan yang sudah dia lakukan. Dia menyesali setiap saat dia merasa sedih.

Di saat seperti ini sepertinya penampilan, seperti dandanan, baju, tidak ada artinya. Dia merasa kesal mengapa dia terlalu memikirkan itu dulu. Dia mulai menangis di depan mamanya yang sudah terlihat stres dan seperti 5 tahun lebih tua. Suster datang lagi untuk mengambil darah. Ibu pergi sebentar berbicara dengan suster itu. Saat kembali ibunya berkata mereka belum tahu penyakitnya apa. Cathleen bertambah bingung.

Kembali kenangan-kenangan teringat. Dia merasa sangat bodoh, pada kelas 6, dia menangis karna dia terlalu kurus. Karna rambutnya tidak bersinar, tidak bergelombang, seperti anak-anak perempuan lainnya.

Kelas 7, dia menangis karna keluar dari program akselerasi. Dia berpikir waktu itu dia bodoh. Seharusnya tidak perlu menangis, pikir Cathleen sekarang.

Tiba-tiba dia menyesali kenapa tidak ikut lebih banyak eks-kul. Kenapa dia tidak pernah berani bicara dengan anak lelaki yang dia sukai. Kenapa tidak meneruskan belajar bahasa Spanyol yang dia mulai kelas 4. Dia menyesal memikirkan saat-saat dia mengejek teman kelas lain.

Kemudian suster membawanya untuk x-ray, dan dia dibawa kembali ke kamarnya sesudah itu. Saat itulah Cathleen berdoa. Dia berdoa untuk sekiranya mendapat kesempatan kedua dalam hidupnya.

Cathleen menghabiskan waktu berjam-jam di rumah sakit. Akhirnya suster datang dan mencabut infusnya.

Cathleen sudah membayangkan apa yang akan dikatakan suster. Dia langsung berpikir, jika saya sakit kanker, maka saya tidak akan sempat lulus SMP.

Lalu suster berkata: “Ini sangat aneh. Tapi berdasarkan tes, kami tidak menemukan penyakit yang serius atau pun gejala kanker.” Setelah sekian lama, baru sekarang Cathleen bisa tersenyum lagi.

Meninggalkan rumah sakit, Cathleen berdoa untuk orang lain yang tidak seperti dia, dan memang menderita penyakit serius. Dia berdoa mereka bisa fokus pada hal lain selain penyakitnya. Pengharapan.

Sejak saat itu, hidup Cathleen berubah. Dia mendapatkan kesempatan kedua.

Dia belajar untuk menghargai setiap momen kehidupan dan betapa mudahnya itu hilang darinya. Hari ini mungkin hari terakhir, karna tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok.

Sungguh aneh apa yang bisa terjadi kepada kita dengan satu kunjungan ke rumah sakit, yang serius atau yang kita pikir serius. Kadang Tuhan menggunakan situasi ini untuk membuat kita melihat kembali kehidupan kita. Lalu memberikan kita kesempatan kedua. Apakah kita sudah puas dengan kehidupan kita? Apakah ada yang dapat kita perbaiki pada kesempatan kedua?

Apa yang kita lakukan tahun 2017 ini? Apa yang tidak sempat atau tidak sama skali kita lakukan? Apa yang salah tahun ini?

Apakah kita dapat memperbaikinya di tahun 2018? Apa yang akan kita akhirnya wujudkan tahun depan? Apa yang tidak boleh salah lagi tahun depan?

 

Tuhan yang melupakan

Kita harus lebih bersyukur lagi bukan hanya terhadap kesempatan kedua, tapi karna Tuhan bukan hanya mengampuni, Dia melupakan.

Pernahkah kita mulai menghitung sudah berapa kali kita berdosa? Itulah pemikiran kita sebagai manusia. Kita menghitung-hitung dan mengingat terus. Tetapi puji syukur, Tuhan tidak demikian. Setelah Dia mengampuni, Dia melupakan.

Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka. – Ibrani 8:12

Tuhan bukan hanya Tuhan dengan kesempatan kedua. Dia adalah Tuhan dengan kesempatan berikut. Tentu ini sangat, sangat baik untuk kita. Karna kita tahu sendiri bagaimana gampangnya kita menghabiskan dengan sia-sia kesempatan kedua.

Sering kita menghakimi orang. Mengingat-ingat masa lalu, bahkan masa lalu kita sendiri.

“Bagaimana mungkin kamu mengajar Sekolah Sabat dengan latar belakang kamu yang seperti itu?”

“Kamu mau jadi misionaris?”

“Kamu siapa mau tawarkan bantuan?”

“Saya tidak mau ke gereja. Apa kata orang kalau mereka ketahui saya siapa dulu.”

Jadi cara berpikir kita harus berubah. Bagaimana kita bisa melayani Tuhan dengan sepenuh hati, kalau dalam pikiran kecil kita, kita masih mengingat-ingat dosa-dosa kita yang lama. Tinggalkan semua memori tentang dosa lama. Ingatlah bahwa Tuhan sudah melupakannya.

Ingat juga, Tuhan panjang sabar dan mengampuni. Dan Dia menginginkan kita anak-anak-Nya untuk menjadi sabar dan mengampuni orang lain.

 

Dorongan

Semoga dalam sisa 2017 dan tahun 2018 yang sudah dekat  kita pergunakan kesempatan kedua dalam pelayanan kita kepada Tuhan. Dalam diri, dalam keluarga, dan dalam jemaat Tuhan. Apapun misi gereja kita, apapun misi keluarga, apapun misi pribadi anda. Misi yang tidak kita selesaikan, bahkan tidak kita lakukan tahun 2017.

Ini kesempatan berikut untuk bekerja untuk itu. Lupakan yang sudah lalu. Mari bekerja sama dengan Tuhan untuk semua ini. Terutama biarlah 2018 menjadi tahun kita bersama Yesus dalam menyelesaikan pekerjaan-Nya.

Tuhan memberkati kita semua.

 

Lagu dan Ayat Pendukung

Lagu Sion Edisi Lengkap #93 Rahmat Tuhan

Tetapi Engkau, ya Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia. – Mazmur 86: 15

Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia. – Ibrani 10:19-23

Lagu Sion Edisi Lengkap #89 Besarlah ya Tuhan Kasih Setia-Mu

Sumber:

https://en.wikipedia.org/wiki/The_Last_Supper_(Leonardo_da_Vinci)

http://www.gotquestions.org/second-chances.html

http://www1.cbn.com/biblestudy/the-god-of-second-chances

https://maxlucado.com/the-gospel-of-second-chances/

http://www.motivateus.com/stories/s-chance.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.